
Rumah Nusantara, PDI Perjuangan Rayakan Harlah NU ke-95.
Januari menjadi bulan istimewa bagi PDI Perjuangan, HUT partai yang ke-48 dan ulang tahun Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri. Pun, Januari ini menjadi bulan istimewa bagi setiap Nahdliyin di seluruh Indonesia. Karena, tepat pada 31 Januari 2021, Nahdlatul Ulama (NU) memasuki usianya yang ke-95 (penanggalan masehi).
Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia, berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.
Selain itu, NU sebagaimana organisasi-organisasi pribumi lain baik yang bersifat sosial, budaya atau keagamaan yang lahir semasa penjajahan, pada dasarnya merupakan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini didasari oleh berdirinya NU dipengaruhi kondisi politik dalam dan luar negeri. Sekaligus merupakan kebangkitan kesadaran politik yang diwujudkan dalam gerakan organisasi untuk menjawab kepentingan nasional dan dunia Islam umumnya.
Peran dan perjuangan NU dalam setiap periodisasi sejarah Indonesia memang sudah tidak dapat diragukan lagi. NU menjadi salah satu garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya berhenti sampai di situ, NU juga terlibat aktif dalam mengisi kemerdekaan Indonesia dan berlanjut hingga saat ini.
Dalam catatan sejarah, 28 Desember 1962, Presiden Soekarno menghadiri Muktamar NU ke-23 di Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Kala itu, karut-marut suasana politik di Tanah Air tengah memanas, seiring berbagai keputusan yang diambil Soekarno, baik di kancah domestik maupun dalam hubungan Indonesia dengan negara lain.
Ketika itu beberapa elemen kelompok terlibat dalam pemberontakan DI-TII dan kemudian PRRI Permesta. Meski demikian, hubungan antara Bung Karno dan NU justru semakin erat. Ini dibuktikan oleh pidato Soekarno pada Muktamar NU ke-23 tersebut.
“Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!” tegas Bung Karno.
Dalam kesempatan tersebut, Bung Karno juga memberikan apresiasi kepada NU dan Rais Aam KH Wahab Hasbullah, atas gagasannya dalam usaha merebut Irian Barat.
“Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho Pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan, berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara,” kata Bung Karno.
Tokoh NU, Hasyim Asy’ari diangkat sebagai Ketua Umum Majelis Syuro (Dewan Penasehat Keagamaan). Sementara tiga tokoh NU lainnya menduduki jabatan menteri sebagai wakil Masyumi, yakni Wahid Hasjim, Masjkur, dan K. H. Fathurrahman Kafrawi. Tokoh lainnya yang juga berkiprah di pemerintahan adalah Wahab Chasbullah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Di era ini, peran NU dan peran kyai NU saat ini dibutuhkan untuk menjaga kondusivitas Indonesia. Mulai dari radikalisme, mengelola perbedaan pendapat hingga kini isu Covid-19.
Eksistensi NU tidak semata-mata hanya menegakkan syiar agama Islam dan akidah Aswaja, tetapi juga menanamkan spirit nasionalisme (termasuk kemandirian ekonomi) sebagai bekal berharga untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme.
Fondasi gerakan para ulama pesantren masih terus relevan mengingat bangsa Indonesia yang kerap dihadapkan pada persoalan agama, sosial-kemasyarakatan, dan problem kebangsaan. Dalam perjalanan Indonesia sampai dengan saat ini, PDI Perjuangan bergandengan tangan dengan NU dalam menjaga eksistensi dan kebhinnekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak kader PDI Perjuangan yang berasal dari anggota Nahdlatul Ulama (NU).
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menjelaskan PDI Perjuangan merayakan Harlah NU karena kesadaran terhadap sejarah. PDI Perjuangan dan NU, sambung Hasto, merupakan sahabat dan mitra sejati kita. “Ibu Megawati Soekarnoputri selalu menegaskan sikap PDI Perjuangan yang menempatkan NU sebagai sahabat dan mitra sejati untuk membumikan Pancasila.”
Seiring peringatan Harlah NU ke-95 tahun ini, pdiperjuangan.id menyampaikan ucapan selamat Harlah NU ke-95, PDI Perjuangan memberikan apresiasi penghormatan setinggi-tingginya kepada NU yang telah sukses membawa bangsa Indonesia pada keselamatan dan menjadi perekat kebangsaan. “Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”.
Untuk itu kami mengajak kader PDI Perjuangan turut serta memasang profil akun sosial media ataupun Whatsapp dengan twibbon Selamat Harlah Nahdlatul Ulama (NU), 31 Januari 2021.
Berikut kami lampirkan link twibbon dalam rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke 95. Bersama PDI Perjuangan menjaga kebhinekaan dalam bingkai persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia :
Twibbon Versi 1 :
https://www.twibbonize.com/rumahnusantara
Twibbon Versi 2 :
https://www.twibbonize.com/rumahnusantara2
Twibbon Versi 3:
https://www.twibbonize.com/rumahnusantara3
Twibbon Versi 4
https://www.twibbonize.com/harlahnupdip
Cara memasukkan foto profile ke dalam Twibbon
– klik tombol Pilih Foto
– lalu pilih foto yang ingin
digunakan di gadget anda, lalu klik ok
– sesuaikan foto dengan frame yang ada
– jika sudah pas, lalu klik Crop!
– tunggu proses selesai
– klik download
– selesai.
Sumber: pdiperjuangan.id







