374 Views

Manuver Satgas AntiHoaks dan Pasukan Infanteri Jokowi

Berebut Suara di Tanah Pasundan

Satgas AntiHoaks 
dan Pasukan Infanteri Jokowi

Suara di Jabar tergerus hoaks, Jokowi membentuk satgas yang door to door menetralisir isu bohong. Ada pula pasukan infanteri sebagai pelapis.

Begitu terbentuk pada 28 Februari 2019 lalu, Satgas AntiHoax milik Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Barat untuk capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin langsung bergerak cepat. Mereka menyisir secara door to dooruntuk menangkal serangan hoaks terhadap pasangan capres–cawapres nomor urut 01 itu.

Menurut Sekretaris TKD Jabar Abdy Yuhana, kepada detikX, aksi penangkal hoaks sengaja dibentuk untuk mengantisipasi fitnah dan kabar bohong yang sering menyerang Jokowi-Ma’ruf, terutama di daerah Pasundan. Terlebih Jokowi sempat berkeluh kesah elektabilitasnya menurun karena ulah penyebar hoaks di Tanah Pasundan.

“Di Provinsi Jawa Barat, saat itu, 1,5 bulan yang lalu kita sudah menang 4 persen. Dulu kan kita kalah telak tuh. Ini sudah menang 4 persen. Nggak ada hujan, nggak ada angin, tahu-tahu anjlok 8 persen,” ucap Jokowi saat bertemu TKD Sulawesi Tenggara di Kendari, Sabtu, 2 Maret 2019.

Pernyataan Jokowi terang saja membuat TKD Jabar langsung tersengat. Apalagi tenggat waktu pencoblosan Pilpres dan Pileg 2019 tinggal sebulan lebih sedikit. “Kita juga terus melakukan evaluasi terhadap strategi politik yang diterapkan di Jabar,” imbuhnya.

Meski mengalami penurunan elektabilitas, lanjut Abdy, dari data sejumlah lembaga survei seperti Indopolling, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, dan Indo Barometer, suara Jokowi-Ma’ruf di Jabar masih unggul, yakni berkisar 52-53 persen atau dengan selisih 8-10 persen. “Tapi kami menargetkan untuk Jawa Barat bisa menang di angka 60 persen,” ujar Abdy optimis.

Untuk mencapai target tersebut, tim antihoaks sudah memetakan sejumlah daerah yang rawan penyebaran hoaks dengan menyampaikan program Jokowi serta fakta-fakta terkait isu hoaks yang beredar. Selain itu, tim juga melakukan monitoring, terutama di media sosial, jika ada berita hoaks, serta menelusuri akun penyebar hoaks tersebut untuk dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atau ke polisi.

Abdy menyebut, dari hasil pemetaan yang dilakukan TKD, setidaknya ada enam wilayah yang rentan terhadap hoaks itu, yakni Bandung Raya, Priangan Timur (Garut, Tasikmalaya, Banjar, dan Ciamis), Priangan Barat (Sukabumi dan Cianjur), Kerawangan (Karawang, Subang, Purwakarta), wilayah Cirebonan ( Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka), serta di wilayah megapolitan Jawa Barat (Bekasi kota, Kabupaten Bekasi, Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor).

Adapun dari polanya, hoaks itu menyebar dengan dua cara, yakni lewat serangan udara (media sosial) dan serangan darat (door to door). Isunya antara lain, azan yang akan dihentikan apabila Jokowi-Ma’ruf terpilih, pesantren yang akan ditutup, dan kembalinya Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Misalnya sekarang di Banjar ada oknum ASN (Aparatur Sipil Negara) yang menyebarkan hoaks jika Jokowi menjabat lagi nanti azan ditiadakan dan pesantren akan ditutup,” beber Abdy.

Namun, soal otak pelaku penyebaran hoaks tersebut, Abdy bilang, masih melakukan investigasi. Ada dugaan otak pelaku merupakan timses dari pasangan penantang, yakni Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. “Ya kami terus melakukan investigasi. Misalnya dari Karawang kan itu relawan Pepes. Itu relawan dari mereka,” terang Abdy.

Sementara Maman Imanul Haq, Direktur Relawan TKN Jokowi-Ma’ruf Amin menyebut, daerah Jawa Barat memang jadi sasaran utama untuk ditakhlukkan. Pasalnya, Jabar adalah daerah yang memiliki daftar pemilih tetap (DPT) terbanyak se-Indonesia.

Untuk diketahui, DPT di Jabar untuk Pemilu 2019 tercatat sebanyak 32.636.846 pemilih. Angka itu terdiri atas 16.401.010 pemilih laki-laki dan 16.235.836 pemilih perempuan. Para pemilih tersebar di 627 kecamatan atau 5.957 desa/kelurahan. Daerah tersebut memiliki 137.401 titik TPS.

Alasan lainnya, saat Pilpres 2014, Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla kalah telak dari Prabowo-Hatta Rajasa dengan raihan 9.530.315 suara atau 40,22 persen. Sedangkan Prabowo-Hatta unggul dengan meraih14.167.381 suara atau 59,78 persen.

Untuk membantu tugas TKD, kata Maman, tim relawan yang bertugas di Jawa Barat membentuk Tim Delta yang membawahi 11 organ relawan. Mereka melakukan canvassing (penyisiran) di enam cluster wilayah yang menjadi medan pertempuran utama.

Maman menyebut tim relawan tersebut dengan sebutan pasukan infanteri. Soalnya, para relawan tersebut melakukan aksi door to door untuk meyakinkan pemilih, dan sebagian lainnya khusus menggempur wilayah kantong-kantong lawan.

Pusat komando tim relawan di Jabar dipusatkan di Rumah Kerja Relawan yang terletak di Jalan Karang Setra, Kota Bandung. Selain itu ada pula posko di masing-masing kabupaten/kota sebagai kantor Timsus 1901.

“Timsus 1901 beranggotakan anak-anak muda yang bertugas melakukan canvassingdan sebagainya. Berkat tim Ruker, Tim Delta, serta Timsus 1901. Alhamdulillah yang pada Januari 2019 terdata kalah saat ini mengalami peningkatan hingga 8 persen,” begitu kata Maman.

Adapun yang dikatakan Jokowi soal adanya penurunan 8 persen, ujar Maman, terjadi di Kota Tasikmalaya. Penyebabnya, ada kejadian di Pesantren Sulatul Huda Paseh Kota Tasikmalaya yang sempat heboh aksi pergantian baliho pascakedatangan Ma’ruf Amin.

Sebab lainnya, beredar video berisi ceramah kiai-kiai yang tidak menerima kepemimpinan Jokowi dalam pembanguan infrastruktur dan sebagainya. Jumlah video yang berhasil dikumpulkan sebanyak tujuh video.

Kata Maman, meski di Tasikmalaya mengalami penurunan, namun untuk keseluruhan di wilayah Jawa Barat pasangan 01 masih unggul sebesar 56 persen. Sekali pun dari sejumlah hasil survei sudah unggul di Jabar, Maman mengaku TKD dan relawan akan terus menjaga hasil tersebut. Pasalnya situasi di tanah Pasundan sulit ditebak. 

Dia mencontohkan, di Jabar tidak ada satupun partai yang sebelumnya menang bisa mempertahankan hasil tersebut. “Saat Orde Baru Golkar yang terus menerus menang dan ketika reformasi PDI Perjuangan menang. Selanjutnya Partai Demokrat yang menang. Tapi belakangan PKS yang mendominasi,” urai Maman.

Saat ini yang juga menjadi perhatian timses 01 selain ‘perang’ melawan timses 02 di Jawa Barat ada cluster pemilih di luar pasangan yang berlaga di pilpres. Mereka adalah kalangan tidak suka Prabowo namun membenci Jokowi. Mereka terindikasi yang gencar menebar berita hoaks. x.detik.com

Berita Terkait

Author: indera kusuma

Leave a Reply