106 Views

Pendidikan Politik Terpenting Adalah Mengorganisir Rakyat


Presiden ke-5 Republik Indonesia  Dr. (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri menyampaikan testimoninya tentang sosok Dato’ Seri Anwar Ibrahim pada rapat senat terbuka penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada Dato Seri Anwar Ibrahim di Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, Senin (29/10/2018).

Megawati menyebut ada kesamaan sifat politik antara dirinya dengan Anwar tentang perjalanan politik yang tidak mudah.

“Bagi saya Dato’ Anwar Ibrahim adalah akademisi yang tidak berhenti. Dato’ contoh nyata akademisi terus-menerus aktif dalam sebuah politik yang panjang. Saya yakin Dato’ meletakkan gelar akademis bukan untuk kebohongan politik, kebenaran politik harus dipertanggungjawabkan bukan hanya ilmiah, tetapi juga etika dan moral,” kata Megawati.

Megawati juga pernah mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Kampus UNP pada 2017. Gelar yang diberikan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut karena pengabdiannya di bidang pendidikan ketika menjabat sebagai Presiden RI.

Untuk mengetahui pidato Megawati Soekarnoputri, silakan simak berikut ini.

 

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Om Swasti Astu,

Namo Budaya

 

Tentunya di luar dari protokoler, saya harus memanggil yang pertama, sahabat saya, orang yang saya kagumi, Dato’ Seri Doktor Anwar Ibrahim orang yang saya hormati dan sayangi.

Bapak Zulkifli Hasan Ketua MPR Republik Indonesia, Bapak Oesman Sapta Odang Ketua DPD Republik Indonesia, Gubernur Sumatera Barat Bapak Irwan Prayitno, dari Kemenristek Dirjen Dikti Bapak Prof. Ali Gufron, Rektor Universitas Negeri Padang Prof. Ganefri, yang saya hormati seluruh civitas akademika Universitas Negeri Padang dan tentunya guru besar dan ketua senat, para ulama, dan nini mamak. Hadir di sini Dr. Fahmi Idris juga para Bupati yang  tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas rahmat dan karuniaNya kita semua hadir dalam acara yang sangat penting ini, dalam penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa bidang pendidikan politik dari Universitas Negeri Padang kepada sahabat saya, Dato’ Seri Doktor Anwar bin Ibrahim.

Kalau mau tahu saya dan Dato’ Anwar Ibrahim dapat dikatakan politisi satu angkatan. Usia kami, saya selalu bilangnya “plus 17”. Jadi beliau juga begitu pasti. Jadi ketika saya ditanyakan kenapa ibu tidak mau sebutkan umurnya yang asli? Oh karena saya perempuan, perempuan biasanya musti punya rahasia.

Dapat dikatakan pula perjalanan politik yang kami pilih bukan perjalanan politik yang berjalan di bentangan karpet merah. Alhamdulillah di Republik ini saya selalu disebut sebagai Presiden Kelima, karena saya alhamdulillah bisa jadi Wakil Presiden, bisa jadi Presiden. Dan saya Dato’, satu satunya, the only oneperempuan di Indonesia yang jadi orang pertama sampai hari ini. Saya mesti bicara sama Wan Azizah, kadang-kadang terasa sedih, kenapa ya perempuan-perempuan Indonesia kok tidak bisa seperti saya, istilah saya ‘tempur!’, akhirnya; kok jadi juga ya Presiden.

Meskipun ayah saya adalah Bapak Bangsa Indonesia, salah satu founding father bangsa ini, Proklamator, sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia; dikenal dengan nama Bung Karno. Tidaklah dengan mudah saya dapat meraih. Misalnya, hingga saat ini saya dapat bertahan sebagai Ketua Umum suatu partai politik. Dan sebagai Ketua Umum pun saya menjadi yang paling senior.

Kalau kami panggil saudara kami Pak Oesman Sapta dengan Oso, lalu Pak Zulkifli Hasan itu Bang Zul, nggak berani sama saya. Kalau mereka sedang sendiri-sendiri bisa ngomong, tapi begitu saya datang, semuanya “Mbak apa kabar?” Ya itu mungkin rasa hormat, karena kok bisa saya lama banget ya jadi Ketua Umum di Republik ini.

Saya tidak pernah memilih ‘politik parnea’ : politik yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Jadi apa beda saya dengan Pak Dato’? Tadi saya katakan ada kesamaan. Saya kurang, ada beda. Kurang apa, saya belum jadi masuk penjara.

Karena ketika itu saya sudah dipanggil sama polisi lah, kejaksaan lah, wah saya bilang “Mungkin tinggal satu langkah lagi ini, tapi rupanya begitu cepat, sehingga Indonesia mengalami reformasi, alhamdulillah saya belum jadi masuk ke penjara.”

Kemarin Pak Dato’, saya cerita, suatu saat setelah saya Presiden, alhamdulillah karena ayah saya selalu ingatkan kepada anak-anaknya, kalau kalian masuk politik, harus sudah siap untuk tidak boleh ada dendam di dalam hati kalian. Dan itu betul-betul bukan sesuatu yang mudah. Dan saya dan saudara-saudara saya memang harus melakukannya.

Jadi kalau waktu itu saya dipanggil ke kepolisian, ke kejaksaan, kok karunia Allah juga memang saya dibuat lupa nama-nama mereka yang memeriksa. Nah, waktu saya Presiden spontan saja, waktu itu ada Hari Jadi Kejaksaan, saya tanya dengan Jaksa Agung, tapi ya saya nggak mikir ya, “Orang yang memeriksa saya waktu itu ada nggak ya disini?”, wah semua orang pucat, saya sendiri lalu kaget. “Siap ibu!, ibu mau apakan?” Loh saya hanya tanya, ada nggak orangnya. “Siap ibu, ada di lapangan.” Jadi waktu ada acara penghormatan kan semua hormat saya, saya hanya ketawa dalam hati, sekarang saya jadi presiden kamu. Jadi nggak apa Pak, terus maju, maju terus pantang mundur.

Bahwa politik menurut Bung Karno tidak boleh berjarak dengan rakyat, keputusan politik tidak boleh menjauhkan rakyat dari pemimpinnya.

Begitu putusan politik itu salah, suatu saat akan diturunkan oleh rakyat. Pendidikan politik yang terpenting bagi seorang politisi dan pemimpin adalah pendidikan untuk dapat mengorganisir rakyat dan Bung Karno sekali lagi berpesan:

“Rakyat adalah cakrawati dalam politik. Akhirnya hanya Rakyat yang menentukan, bukan kaum elitnya atau siapapun juga. Rakyat adalah hulu dan sekaligus akhir dari tujuan politik seorang pemimpin untuk dilabuhkan.”

Tentu pilihan politik seperti itu bukan sesuatu yang mudah. Intimidasi dan tindakan represif saya alami juga, bahkan sejak ketika saya masih usia belia.

Tetapi kalau tadi beliau mengatakan moral, maka kalau keyakinan terhadap ideologi, kami bangsa Indonesia telah mempunyai ideologi Pancasila yang menuntun saya untuk terus mengasah kesabaran, yang disebut kesabaran progresif, artinya tidak diam tapi maju, revolusioner.

Saya yakin, kesabaran ini pula yang dimiliki seorang Anwar Ibrahim. Kesabaran Progresif Revolusioner seorang Anwar Ibrahim.

Kalau dengar cerita di penjara beliau menimba ilmu dengan membaca buku dan sebagainya, begitu pula saya mendengar dari almarhum ayah saya. Untuk membuang waktu yang “tak mau dihitung”, karena beliau sudah tahu bahwa tak tahu kapan bisa keluar, jadi beliau itu membaca macam-macam buku. Buku beliau mungkin sekarang ini yang masih ada jumlahnya di sekitar lebih daripada hampir 50 ribu, yang sayangnya waktu itu, kami ini tidak boleh berbahasa Belanda. Bapak saya mungkin, akibat merasa terjajah, jadi putri putranya tak boleh belajar bahasa Belanda. Tapi buku-buku yang dibaca Bung Karno kebanyakan bahasa belanda. Sayang menurut saya. Harusnya dibuat dalam bahasa Indonesia.

Sahabatku,

saya mengikuti perjalanan politikmu dalam menentang ketidakadilan. Dinding penjara pun tidak mampu meruntuhkan semangat seorang Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim untuk memperjuangkan keadilan bagi rakyat Malaysia. Ini bukan omong kosong. Saya dapat merasakan dikejar saja, diinteli saja, rasanya kalau tak kuat, jantung kita itu copot loh. Saya mengalami itu.

Sejarah mencatat bagaimana seorang Anwar Ibrahim berjuang menyatukan Malaysia yang terdiri dari multi etnis, sama seperti Indonesia.

Perjuangan politiknya untuk pengakuan, penghargaan, dan persamaan perlakuan terhadap seluruh etnis yang ada di Malaysia adalah bentuk perjuangan politik kemanusiaan yang telah diyakininya, dirintisnya sejak usia muda.

Kami sama-sama meyakini;

“Keberagaman adalah hal yang kodrati, bukan alasan untuk berpecah, tetapi berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk hidup dalam harmoni keberagaman. Kalau di Indonesia ada sebutannya Bhinneka Tunggal Ika, bermacam-macam tetapi tetap satu jua.”

Tadi Dato’ mengatakan, “Oh ibu itu ternyata ada darah keturunan Sumatera juga.” Terus saya bilang; “Itulah Dato’, alhamdulillah, saya ini gado-gado.” Jadi tidak bisa, kalau saya bilang, saya Suku Sumatera. Dulu waktu sekolah, ada peristiwa harus mencatat registrasi. Di situ masih ditulisnya, suku bangsa. Saya mau tulis, saya bingung. Saya bawa pulang. Saya bilang kepada guru saya, “Saya mau tanya sama ayah saya, suku bangsa saya ini apa”. Ketika ayah saya beritahu, “Tulis disitu, Indonesia!”

Karena memang saya, Jawa ada dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sumateranya dari Bengkulu. Lalu Eyang saya itu dari Bali. Ketika saya mau menjadi pimpinan politik, banyak lawan saya mengatakan “Itu agamanya itu tidak terang.” Iya, saya dibilang begitu, “Supaya diketahui, Ibu Mega agamanya tidak terang, entah Islam, entah Hindu.”

Jadi saya panggil wartawan. “Coba dengarkan saya. Saya justru minta tolong kepada kalian. Kalau dalam diri saya ada darah yang datang dari leluhur saya, yaitu agama Islam, dan kebetulan ada dari pihak agama Hindu, karena nenek saya itu agamanya Hindu, apakah saya harus mulai memotong jari tangan saya satu, apakah kalian akan puas dan saya harus mengatakan agama saya itu A atau B. Anda semua tahu bahwa agama saya itu Islam. Itu pilihan saya.” Langsung berita itu senyap.

Kami sama-sama meyakini sekali lagi;

“Keberagaman adalah hal kodrati, bukan alasan untuk berpecah, tetapi berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk hidup dalam harmoni keberagaman. Kita harus terima, kita harus senang, negara kita ini Indonesia tamu kita itu Malaysia. Tidak bisa kita mengatakan, tidak mau dengan kamu, tidak mau dengan kamu. Maka kita akan dikucilkan oleh dunia.

Tidak mungkin suatu bangsa maju tanpa persatuan. Tidak ada yang lebih berharga dari persatuan dan kesatuan bagi setiap negara.

Perpecahan, perang saudara, hanya akan membuat porak poranda seluruh tatanan. Bahkan suatu negara besar pun dapat luluh lantak akibat perpecahan.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Hal lain yang saya kagumi dari Dato’ Anwar Ibrahim adalah perjuangan politiknya dalam pendidikan; pendidikan politik.

Sekarang ini, anak-anak dari kalangan intelektual, mereka mengatakan jangan berpolitik. Berpolitik itu tabu. Ibu-ibu mengatakan kepada saya, kami ini ibu-ibu rumah tangga, tidak bisa kami ikut berpolitik. Karena politik itu tabu. Saya tanya, ibu-ibu, kalau kalian mulai ribut soal cabai, harga bawang merah, sebenarnya kalian itu sudah mulai berbicara bernuansa politik. Jadi ada suatu misleading sekarang soal politik itu. Sebenarnya dalam tataran yang membumi, politik itu berjalan terus.

Pendidikan adalah modal dasar bagi setiap bangsa. Politik pendidikan yang dirintis Dato’ Anwar Ibrahim adalah perjuangan untuk melahirkan rakyat yang sadar. Bung Karno mengatakan BewustBewust itu bukankah bahasa Belanda ya, Pak? Waktu itu, para pemimpin lebih banyak mengerti bahasa Belanda daripada bahasa Melayu. Kalau sedang berdebat keras, kalau tidak bahasa Jawa ya bahasa Belanda. Saya tanya kok begitu sih. Otak kita sudah dicuci sama Belanda. Jadi kita bisanya bahasa Belanda, atau Jawa, atau Sunda, atau Sumatera. Wah membingungkan sekali. Untung kita sudah punya bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Sadar akan tugas pengabdian kepada negara. Yang sekarang ini sering tidak ada. Kesadaran itu, roh itu. Seperti tadi yang telah disampaikan dengan baik oleh Pak Fahmi. Jadi moral obligation itu adalah roh yang harusnya ada dalam diri kita. Kenapa kita semua jadi telah menjadi begini, kenapa kita semua telah mempunyai pangkat seperti ini? Ini semua harus diabdikan kepada seluruh rakyat. Tentunya bukan hanya kepada rakyat di Indonesia saja. Karena di dalam Konstitusi Indonesia kita, dikatakan untuk juga menjaga perdamaian dunia. Saya kira sekarang ini mulai banyak pemimpin muda muncul dan mencapai kesadaran seperti itu.

Karena pendidikan itu yang membawa enlightenment, pencerahan bagi perjalanan peradaban setiap bangsa. Kita pernah dengar kerajaan Romawi, Babylonia. Saya sedih sekali ketika Irak diserang. Bukannya karena politiknya, tapi museum Babylonia itu dihilangkan, dijarah dan sebagainya. Bagaimana kita bisa tahu tentang sejarah, kalau sejarah bangsa dunia itupun dihancurkan.

Bagi saya, Dato’ adalah seorang akademisi organik. Seorang akademisi yang tidak berhenti pada tataran teori, bukan akademisi yang oleh Bapak saya disebut “Jangan mau hidup di menara gading”. Artinya mengawang-awang, tidak membumi. Dato’ adalah contoh nyata akademisi yang terus menerus meleburkan diri dalam perjuangan politik.

Dato’, saya yakin sama dengan saya. Dato’ pun menempatkan gelar akademis bukan sebagai alat legitimasi ilmiah kebohongan politik yang sering berkedok kebenaran. Kebenaran dalam politik harus dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara ilmiah tetapi juga, yang terpenting secara etika dan moral.

Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran. Meski kekuasaan menguburnya ke dasar bumi. Kebenaran, tetap akan menang dan indah pada waktunya, jika diperjuangkan tiada henti. Oleh sebab itu, Onward Never Retreat!

Pada titik inilah sesungguhnya pendidikan politik harus mampu melahirkan manusia yang berjiwa merdeka. Saya seringkali bertanya kepada ahli sejarah. Apa betul kita ini dijajah 350 tahun? Kok senang benar ya? Saya suruh lagi menelaah, betul tidak 350 tahun? Waduh panjang betul, sudah berapa nenek yang kita punya.

Pada titik inilah sebetulnya, pendidikan politik harus mampu menghasilkan jiwa yang merdeka, yang melawan segala bentuk penindasan, menentang, dan menolak manipulasi. Termasuk manipulasi yang direncanakan dengan sistematis, yang kadang dibalut dengan indah, dengan narasi ilmiah.

Hadirin yang saya hormati dan banggakan.

Pada kesempatan ini, saya juga sangat ingin memberikan penghargaan dan penghormatan kepada Dato’ Seri Doktor Wan Azizah Wan Ismail, istri tercinta dari beliau, mungkin beliau sudah jatuh cinta berkali kali dengan Wan Azizah. Karena selain cantik, saya juga lihat ada sebuah keteguhan dan ketabahan, ini bukan mengada ada. Buktinya, kalau Dato’ di penjara, kalau bukan kita ibu-ibu yang memelihara anak keturunan kita, coba bayangkan bagaimana. Kalau tadi beliau dengan bangga meskipun dipenjara, putra putrinya tetap melanjutkan ke universitas. Tapi dibalik itu saya bertanya, kalau bukan karena Wan Azizah, beliau tidak akan bisa berbicara seperti ini. Seorang perempuan yang tidak hanya memberikan pengabdiannya pada suami dan keluarga.

Di mata saya, Dato’ Seri Doktor Wan Azizah adalah seorang politisi perempuan yang tegar dan pemberani. Beliau tidak berapi-api, tapi justru dengan keluwesannya, kalau orang Jawa sebutnya ‘luwes’, itu berkata-kata dengan sejuk tapi isinya mendalam. Begitu, perempuan Jawa, perempuan Jawa itu malu-malu kucing, tapi jangan disakiti, Pak. Inilah pasangan ideologis yang mengabdikan diri untuk perjuangan keadilan dan kesetaraan. Cinta, kalau ada cinta ideologis maka akan lebih indah. Mereka terbukti membawa spirit pembebasan bagi rakyat, bangsa, dan negara.

Civitas Akademika Universitas Negeri Padang,

saya yakin, Dato’ Anwar Ibrahim dan Dato’ Wan Azizah, sama seperti saya tidak akan berhenti untuk terus memberikan pendidikan untuk membangun kesadaran;

“Bahwa kekuasaan politik yang diraih dengan cara-cara manipulatif, hanya akan berakhir dengan diberangusnya kemanusiaan dan akan membawa penderitaan bukan lain kepada siapa, tetapi bagi rakyat.”

Pendidikan politik yang kita semua bersama harus terus kibarkan adalah;

“Pendidikan yang mampu melahirkan politik sebagai sebuah alat, politik itu alat, alat, alat, untuk memperjuangkan kesejahteraan dan menegakan kemanusian yang adil dan beradab.”

Model pendidikan politik inilah yang diperjuangkan, dijalankan dan dibuktikan secara langsung dan konsisten oleh Dato’ Anwar Ibrahim. Politik yang mengedepankan etika dan integritas. Pendidikan politik yang menemukan momentumnya di abad ke-21 ini.

Sebagai salah satu institusi pendidikan terdepan di Indonesia, saya yakin; model pendidikan tersebut pasti telah sejalan dengan garis perjuangan dan idealisme Universitas Negeri Padang.

Sekali lagi, selamat kepada sahabat saya, Dr. Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim atas gelar Doctor Honoris Causa Bidang Pendidikan Politik dari Universitas Negeri Padang. www.pdiperjuangan.id

 

Terimakasih,

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Om Santi Santi Santi Om.

Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri

Berita Terkait

Author: DPD PDI PERJUANGAN JABAR

SITUS RESMI DPD PDI PERJUANGAN JAWA BARAT

Leave a Reply