253 Views

Gabung Jadi Caleg PDI Perjuangan, 14 Purnawirawan TNI Siap Menangkan Jokowi

Setelah mengadakan pembekalan untuk bacaleg artis Nusantara, DPP PDI Perjuangan kembali menyelenggarakan kegiatan serupa bagi purnawirawan TNI dan Polri di kantor DPP Jl. Diponegoro No. 58, Jakarta Pusat, Rabu (1/8/2018). Kedua acara tersebut bertujuan sama, membekali kader Partai agar mampu berjuang membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bersama masyarakat.

Empat belas purnawirawan TNI yang bergabung dan mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan menyatakan siap memenangkan PDI Perjuangan dan Presiden Jokowi pada Pilpres 2019. Mereka ingin Jokowi terus melanjutkan pembangunan yang sudah terbukti nyata di periode kedua nanti.

Mereka yang hadir dalam pembekalan yakni Marsda (Purn) Yan Manggesa, Laksda (Purn) Yuhastihar, Mayjen (Purn) Ch. H. Sidabutar, Mayjen (Purn) Bambang Haryanto, Marsda (Purn) Benedictus Widjanarko, Marsma (Purn) Johanes Urip Utomo, Marsda (Purn) Warsono, Kolonel (Purn) Hargo Yuwono, Mayjen (Purn) Sakkan Tampubolon, Kolonel (Purn) Agus Zulkarnain, Brigjen (Purn) Syukran Hambali, Mayjen (Purn) Sturman Pandjaitan, Kolonel (Purn) Sanius Abastari dan Kolonel (Purn) S. Marzuki.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengapresiasi kesiapan para purnawirawan TNI yang tidak diragukan lagi komitmennya terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinnekaan Indonesia.

“Lebih dari itu, kita sangat mengapresiasi kesiapan para purnawirawan TNI. Beliau-beliau adalah para patriot bangsa, yang nasionalismenya tidak perlu diragukan dan senafas dengan PDI Perjuangan,” kata Hasto Kristiyanto.

Hasto menegaskan bahwa PDI Perjuangan adalah partai berideologi Pancasila yang meneladani ide, gagasan, cita-cita, dan perjuangan Bung Karno. Bung Karno mencanangkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat pada tanggal 23 Agustus 1945 sebagai cikal bakal ABRI yang kemudian menjadi TNI yang hari kelahirannya diperingati setiap tanggal 5 Oktober.

“TNI adalah kekuatan pertahanan, dan penjaga kedaulatan NKRI yang terus kita perkuat agar semakin disegani sebagaimana tahun 60-an, dimana saat itu Angkatan Bersenjata kita terkuat di negara-negara belahan bumi selatan di bawah garis katulistiwa,” jelas Hasto.

Hasto menjelaskan pembentukan angkatan bersenjata tak lepas dari dialektika pemikiran Bung Karno dalam pidato Indonesia Menggugat pada 1930 bahwa Indonesia akan merdeka ketika Pasifik membara karena Perang Dunia.

“Maka Bung Karno memilih bekerjasama dengan Jepang, dan kemudian membentuk PETA (Pembela Tanah Air) sebagai cikal bakal ABRI, yang merupakan integrasi dari seluruh kekuatan bersenjata Indonesia, mengingat revolusi fisik saat itu menghadirkan banyak laskar rakyat sebagai pembentuk jati diri TNI yang berasal dari rakyat,” ujar Hasto.

Lebih jauh, Hasto menegaskan, PDI Perjuangan selalu konsisten untuk mendorong netralitas TNI dan Polri. “Namanya TNI dan Polri aktif tidak boleh berpolitik dalam negara,” jelas Hasto.

Soal netralitas ini, lanjut Hasto, juga didukung oleh pandangan PDI Perjuangan bahwa TNI adalah alat negara. Itu juga yang membuat Presiden ke-5 RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak pernah memandang latar belakang identitas ketika memilih pejabat TNI. Bergabungnya para purnawirawan TNI dan Polri membuat konfigurasi caleg PDI Perjuangan mewujud sebagai Rumah Kebangsaan Indonesia Raya. pdiperjuangan.id

Author: DPD PDI PERJUANGAN JABAR

SITUS RESMI DPD PDI PERJUANGAN JAWA BARAT

Leave a Reply