1925 Views

Membedah Makna Filosofi Seni Sintren Ulasan H. Mustofa, SH (Ketua DPC PDI Perjuangan Kab. Cirebon)

12991982_217599911962968_663952727_oPDIPERJUANGAN-JABAR.COM – Turun sintrén, sintréné widadari Nemu kembang yun ayunan Nemu kembang yun ayunan Kembangé si Jaya Indra Widadari temurunan Kang manjing ning awak ira ……….. Syair berbahasa Cirebon di atas mengalun ritmis diiringi tetabuhan alat musik sederhana yang terdri dari gembyung (gentong), gong dan lesung (alat penumbuk padi tradisional).. Syair sarat makna dan diyakini memiliki kekuatan magis tersebut, dilantunkan secara koor oleh tim juru kawih. Di saat yang bersamaan, munculah seorang gadis belia (masih perawan suci) dengan pakaian sederhana, tanpa dandanan lengkap.

Dengan diiringi musik dari gamelan alakadarnya, gadis belia yang menjadi Ratu Sintren itu diikat, dibelenggu, dengan tali temali yang rumit yang tidak memudahkannya untuk bisa bergerak. Setelah itu, Sang Ratu pun dikurung dalam alat kurungan (ayam) yang dilapisi kain penutup. Prosesi ini melambangkan lahirnya manusia ke dunia ini tidak memakai busana apa pun.

Dalam perkembangannya, setelah lahir dan mengikuti proses alamiah manusia mulai belajar mematuhi norma-norma yang hidup di lingkungannya. Seorang anak manusia sejak bayi dilatih oleh ibunya untuk mengikuti irama kehidupan; menyusu, belajar merangkak, belajar berdiri, berbicara dan seterusnya. Pada proses ini, melibatkan ikatan norma-norma hidup yang berlaku.

Jadi, Ratu Sinren yang diikat dan dikurung melambangkan bahwa manusia hidup di dunia terikat oleh serangkaian norma yang hidup di lingkungannya. Tuhan membekali manusia dengan akal budi, agar manusia dapat survive menghadapi segala tantangan hidup. Dengannya manusia bisa berbuat apa saja, yang baik atau yang buruk, yang putih atau pun yang hitam.

Seiring waktu, manusia yang dibekali akal budi itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sebagian meraih keberhasilan hidup, dan sebagian lainnya mungkin gagal atau kurang beruntung dalam hidup. Itu adalah sunatullah Sebagai catatan, Ratu sintren yang dikurung melambangkan pergulatan manusia untuk bisa berhasil dalam hidup yang penuh kungkungan norma-norma, hukum negara, adat istiadat dan sebagainya. Berikutnya, di saat pergulatan telah sampai puncak, kesenian sintren mulai mempertunjukkan simbol lain dari keberhasilan manusia menyiasati hidup.

Pada saat kurungan dibuka, sang Ratu sintren, yang tadinya terikat dengan busana sederhana, tampil dengan busana yang megah, gemerlap, beraksesoris mewah, dan berkacamata hitam (dahulu kala mata sang maskot sintren ditutup kain hitam, bukan kacamata–pen). Sementara tali yang mengikat dan membelenggu badan serta tangannya sudah terlepas sama sekali.

Sang maskot sintren tampil mempesona. Persis seperti tampilnya para politisi yang berhasil menduduki jabatan tinggi atau pengusaha yang sukses mendulang keuntungan berlimpah. Seperti lazimnya tabiat manusia, ketika telah mencapai kesuksesan hidup, maka penampilan pun berubah drastis; dari sederhana menjadi glamor.

Pada babak inili Ratu sintren berubah wujud penampilan dan mulai menari-nari dalam keadaan kerasukan (trance). Pada saat inilah para penonton melemparkan uang, kertas mau pun koin, ke tubuh sang ratu Sintren. Lemparan uang yang mengenai tubuh akan membuat Ratu Sintren terkulai lemas, tak berdaya. Pada prosesi inipun dapat melambangkan, jika pragmatisme yang ditonjolkan, maka akan dengan mudah ditumbangkan, hanya karena tergoda oleh berlembar-lembar kertas bernama uang.

Makna filosofisnya, bahwa manusia yang sudah mencapai puncak sukses, ketika tak dapat membawa diri, maka dia akan berpotensi jatuh oleh goda-godaan duniawi (dilambangkan dengan lemparan uang) yang selama ini dikejarnya. Atau Makna lainnya yang lebih sederhana, manusia yang penuh keberhasilan, tanpa diimbangi dengan akhlak yang baik, berpotensi lupa daratan (dilambangkan dengan mata yang tertutup kacamata hitam). Jadi, Sintren melambangkan mereka yang tergoda oleh syahwat duniawi, akan jatuh terkulai oleh godaan-godaan duniawi yang menipu, membius, memperdaya dan akhirnya menyengsarakan.

Pertunjukan seni sintren diakhiri dengan kembali dikurungnya sang Ratu Sintren ke dalam kurungan. Setelah babak ini, kurungan kembali dibuka dan tampaklah sang Ratu Seintren tampil seperti semula; hanya mengenakan pakaian amat sederhana. Sebuah makna kembali kita dapatkan, yaitu bahwa manusia kembali ke hadapan Sang Penciptanya tidak membawa apa pun. Sehebat dan sekaya apa pun dia.**

Author: DPD PDI PERJUANGAN JABAR

SITUS RESMI DPD PDI PERJUANGAN JAWA BARAT

Leave a Reply